in , ,

Kenali Penyebab Diare Pada Balita, Dan Cara Mengatasinya

Penyebab diare pada balita

Mypoly.id – Diare menjadi masalah pencernaan yang umum dialami bayi. Karena masalah ini tergolong umum, banyak bunda yang sudah hafal dan lebih mudah menanganinya.

Banyak faktor penyebab diare pada balita, dan cara penanganannya pun berbeda-beda. Bagaimana sih cara menangani diare pada balita? Dan apa saja penyebabnya? Yuk disimak.

Apa itu diare?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare didefinisikan sebagai kondisi dimana kita buang air besar lebih dari 3x sehari dengan feses berair.

Diare akut berlangsung selama beberapa hari hingga satu atau dua minggu, sementara itu diare persisten terjadi ketika feses encer lebih dari dua minggu.

Skala diare

Diare dibagi menjadi beberapa skala, berdasarkan berapa kali kita buang air besar dalam sehari.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), diare dibagi menjadi tiga skala berikut.

  • Diare ringan, 2-5 kali buang air besar dalam satu hari, dengan feses encer.
  • Diare sedang, 6-9 kali buang air besar dalam satu hari, dengan feses encer.
  • Diare berat, lebih dari 10 kali buang air besar dalam satu hari, dengan feses encer.

Sejak balita bisa mengkonsumsi makanan berat, mereka memiliki risiko terkena diare yang lebih besar.

Ada banyak sekali faktor penyebab balita mengalami diare.

Penyebab diare pada balita

Berikut ini beberapa penyebab diare pada balita.

Infeksi saluran pencernaan

Infeksi saluran pencernaan terjadi karena si kecil mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri patogen.

Beberapa patogen bahkan bisa masuk melalui kontak secara oral, misalnya benda yang terkontaminasi seperti mainan yang kemudian dimasukan ke mulut oleh si kecil.

Berikut ini beberapa patogen yang bisa menyebabkan diare pada balita.

Rotavirus

Rotavirus adalah penyebab utama diare pada anak usia dibawah 3 tahun.

Virus ini menyebabkan infeksi Gastroenteritis akut dengan gejala seperti batuk kronis, demam, dan diare parah.

Virus dapat menyebabkan beberapa masalah kesehatan fatal ketika tidak diobati, tetapi untungnya infeksi bisa dicegah dengan vaksinasi.

Escherichia coli

Juga dikenal sebagai E.coli, bakteri ini menyebar melalui konsumsi makanan mentah atau kurang matang.

Kesadaran kebersihan yang buruk seperti tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet juga menyebabkan penyebaran bakteri ini.

Infeksi E.coli menyebabkan diare dengan lendir dan darah yang berlebihan di dalam feses.

Salmonella

Bakteri ini menginfeksi lambung dan usus, menyebabkan kram perut parah, demam, dan diare.

Salmonella memasuki tubuh melalui makanan atau benda yang terkontaminasi seperti mainan.

Campylobacter

Bakteri ini menyebar melalui ayam yang kurang matang, terkontaminasi dan susu yang tidak dipanaskan.

Balita juga bisa tertular patogen ini dengan menyentuh kotoran hewan peliharaan. Infeksi Campylobacter menyebabkan diare parah dengan darah, dan kram perut.

Shigella

Bakteri ini menginfeksi usus besar, yang menyebabkan diare disertai darah yang akut.

Shigella menyebar karena kebersihan anak yang buruk, salah satunya tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet.

Adenovirus

Ini adalah sekelompok virus yang menularkan melalui batuk, bersin, dan kontak dengan makanan atau benda yang terkontaminasi.

Begitu berada di dalam tubuh, virus bisa akan langsung bergerak ke usus, dan akhirnya menyebabkan diare persisten selama lebih dari dua minggu.

Enterovirus

Ini adalah sekelompok lebih dari 60 virus dominan yang bisa menyebabkan diare pada anak di bawah sepuluh tahun.

Balita bisa mengalami beberapa gejala ketika terinfeksi oleh enterovirus, dan satu gejala adalah diare parah dengan muntah akut.

Infeksi parasit

Sejumlah parasit bisa menyebabkan diare pada balita, tetapi yang paling umum terjadi pada balita adalah Giardia lamblia. Seperti patogen lainnya, ia menular melalui makanan dan air yang terkontaminasi.

Keracunan makanan

Ini terjadi ketika balita mengkonsumsi makanan basi yang memiliki koloni bakteri, jamur, atau organisme mikroskopis lainnya.

Tidak seperti infeksi saluran pencernaan di mana patogen langsung menyerang tubuh, dalam keracunan makanan, diare disebabkan oleh reaksi tubuh terhadap racun yang dilepaskan oleh patogen di dalam makanan basi.

Keracunan makanan bisa menyebabkan diare berair kuning dengan darah, dan gejala lainnya termasuk mual, muntah, dan demam.

Jus buah

Siapa sangka jus buah bisa menyebabkan diare? Yup, jus buah bisa menyebabkan diare ringan hingga sedang ketika dikonsumsi secara berlebihan atau digunakan sebagai sumber nutrisi eksklusif untuk balita.

Jus buah kemasan mengandung tambahan gula dan bahkan bahan pengawet yang tidak baik untuk balita. Jus memiliki jumlah nutrisi yang terkonsentrasi untuk diserap oleh sistem pencernaan balita.

Akibatnya, sebagian besar jus tidak dicerna dan dikeluarkan dalam bentuk diare berair. Jenis diare ini tidak memiliki gejala lain selain tinja berair.

Alergi atau intoleransi makanan

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh balita mengira protein makanan sebagai patogen dan meningkatkan pertahanan tubuh dari serangan patogen.

Jika sistem kekebalan tubuh balita memiliki kecenderungan alergi, ia akan menimbulkan reaksi alergi dengan gejala seperti sakit perut, muntah, dan diare.

Penyakit seliaka adalah contoh alergi makanan dimana tubuh menunjukkan reaksi alergi terhadap biji-bijian seperti gandum, jelai, dan gandum hitam.

Intoleransi makanan terjadi ketika sistem pencernaan balita tidak dapat mencerna senyawa makanan.

Misalnya Galaktosemia, adalah kondisi intoleransi makanan di mana usus tidak dapat mencerna Galaktosa, yang merupakan jenis gula yang ditemukan dalam susu, termasuk susu manusia. Intoleransi makanan bisa menyebabkan iritasi saluran pencernaan dan diare.

Penyakit radang usus (IBD)

Ini adalah penyakit genetik yang menyebabkan peradangan parah di lapisan dalam saluran pencernaan.

Diare persisten dengan darah adalah salah satu gejala penyakit ini. Walaupun ada beberapa IBD, yang paling umum dialami balita adalah Kolitis Ulserativa dan penyakit Crohn.

Penyakit-penyakit ini dapat menyebabkan diare yang berlangsung lebih dari sebulan. Karena IBD bersifat genetik, tidak ada pengobatan atau didiagnosis sebelum kelahiran.

Namun demikian, obat-obatan bisa menurunkan gejala dan membantu balita sembuh dari penyakit ini.

Gangguan pankreas

Penyakit yang mengganggu fungsi pankreas atau menutup salah satu salurannya juga bisa menyebabkan diare.

Penyakit pankreas yang paling umum terjadi pada balita adalah Fibrosis Kistik. Penyakit ini memiliki beberapa gejala dan salah satunya adalah diare.

Diare karena Cystic Fibrosis terlihat dari feses yang berminyak dan memiliki bau yang intens.

Hipertiroidisme

Dalam kondisi ini, kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid secara berlebihan. Hipertiroid bisa terjadi karena akibat dari beberapa penyakit atau gangguan kesehatan lain.

Kelebihan hormon tiroid mengganggu fungsi kesehatan berbagai organ termasuk usus. Ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman pada perut dan diare kronis.

Efek samping dari penggunaan obat-obatan

Beberapa obat-obatan, seperti antibiotik, dapat menyebabkan diare sebagai efek samping.

Antibiotik tidak hanya membunuh bakteri berbahaya, tetapi juga mempengaruhi bakteri baik yang membantu pencernaan. Penurunan populasi bakteri baik bisa mempengaruhi fungsi usus.

Kapan balita harus dibawa ke dokter

Saat bunda melihat gejala berikut ini pada balita, budna harus sesegera mungkin membawanya ke dokter.

  • Balita terlihat mengantuk atau setengah sadar setelah diare.
  • Balita belum mengeluarkan air seni selama hampir delapan jam. Ini bisa menjadi tanda dehidrasi yang disebabkan oleh hilangnya cairan dalam feses.
  • Demam konstan lebih dari 100,4 ° F (38 ° C).

Cara mengobati diare pada balita

Mengobati diare pada balita bergantung pada apa penyebab awalnya. Dokter akan mendiagnosis penyebab utama si kecil mengalami diare setelah memeriksa dan menganalisa riwayat medis, tes darah, tes feses dan urin.

Bunda bisa melakukan pengobatan awal berikut jika si kecil mengalami diare, sebelum terjadi dehidrasi yang bisa berakibat fatal pada balita.

  • ORS atau Oral Rehydration Salts, atau garam rehidrasi oral bisa membantu tubuh menjaga agar tidak kehilangan cairan. ORS bisa diberikan melalui minuman dan tak hanya balita, juga bisa diberikan pada orang dewasa yang mengalami diare.
  • Jika balita terlihat mengantuk atau setengah sadar, maka dokter bisa mempertimbangkan pemberian Saline Intravena untuk mengisi kembali cairan yang hilang dengan cepat.
  • Obat antibiotik kadang-kadang digunakan untuk mengobati diare jangka pendek, sementara obat jangka panjang mungkin diperlukan untuk beberapa penyakit genetik yang tidak dapat disembuhkan.
  • Probiotik juga bisa membantu mengendalikan masalah pencernaan ini.
  • Bunda bisa beralih ke susu kedelai jika feses yang dikeluarkan si ekcil terlihat encer selama lebih dari lima hari.
  • Ada beberapa obat anti diare yang dijual bebas seperti Pepto-Bismol. Tetapi jangan pernah memberikan obat-obatan tersebut kepada si kecil. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (USFDA), obat-obatan tersebut mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan balita. Hanya ikuti resep dokter anak. Ingat membawa balita ke dokter sangat penting untuk mencegah timbulnya komplikasi.

Bahaya diare pada balita

Dehidrasi adalah komplikasi diare paling berbahaya untuk balita. Ini terjadi karena hilangnya air dan elektrolit dari tubuh karena feses yang berair. Berikut ini adalah indikator dehidrasi pada balita.

  • Mulut kering
  • Urin kuning gelap atau tidak buang air kecil dalam delapan jam
  • Tidak keluar air mata saat menangis
  • Penurunan berat badan yang cepat dalam sehari
  • Demam tinggi
  • Mata cekung

Makanan yang direkomendasikan untuk balita yang mengalami diare

Saat si kecil mengalami diare, bunda bisa memberikan beebrapa makanan berikut ini

  • Pisang
  • Nasi
  • Ayam rebus
  • Kaldu daging
  • Saus apel
  • Roti gandum
  • Sayuran seperti wortel, jamur, bit, squash, dan Zucchini
  • Kentang panggang atau rebus

Balita akan kehilangan natrium selama diare, jadi tambahkan garam ke makanan balita. Balita membutuhkan garam tidak lebih dari 2g per hari.

Makanan yang harus dihindari saat balita mengalami diare

Jika diare terjadi karena alergi makanan, maka balita harus menghindari makanan itu. Dalam hal intoleransi laktosa, hindari susu formula berbahan dasar susu sapi.

Dokter anak akan menyarankan susu formula yang tidak berbasis susu atau memiliki protein terhidrolisis, yang lebih mudah dicerna oleh perut balita.

Selain itu, hindari makanan berikut saat balita Anda menderita diare

  • Susu (sapi, kerbau, atau kambing) kecuali ASI
  • Produk susu seperti keju dan mentega
  • Makanan yang digoreng termasuk potongan ayam dan sayuran
  • Makanan dengan kadar gula tinggi, seperti kue kering, kue, dan biskuit krim
  • Sayuran, seperti kacang, kol, kembang kol, brokoli, dan cabai, yang bisa membentuk gas
  • Jus buah (semua jenis jus termasuk “jus buah 100%” yang tidak mengandung zat tambahan)

Itulah beberapa penyebab diare pada balita. Sangat penting untuk menjaga kesehatan anak dan lingkungan sekitar, mengingat bakteri penyebab diare sangat mudah tumbuh di lingkungan yang kotor.

Sebelum terjadi dehidrasi pada balita, alangkah baiknya bunda membawa ke dokter agar mendapatkan penanganan lebih lanjut dan mendapatkan saran terbaik dari dokter.

What do you think?

Comments

Leave a Reply

    One Ping

    1. Pingback:

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Loading…

    0

    Apakah Aman Konsumsi Antibiotik Untuk Ibu Menyusui?

    14 Gejala Dehidrasi Selama Kehamilan dan Cara Mencegahnya